Apresiasi Local Wisdom
Melalui Museum Ronggowarsito
Oleh : Eka Zumrotun N
PBI-U (1403096046)
“
JAS MERAH “ ( Jangan melupakan sejarah), tutur presiden pertama kita yang akrab
disapa Bung Karno. Sejarah memang
penting untuk diketahui, dan untuk mengetahui
sejarah tidak perlu kembali ke masa bersejarah dan hidup di dalamnya. Banyak
media yang dapat kita gunakan untuk mengetahui dan mepelajari sejarah salah
satunya adalah dengan berkunjung ke Museum Jawa Tengah Ronggowarsito yang
berdiri di Jalan Abdurrahman Saleh No 1 Semarang. Beranekaragam koleksi peninggalan yang dipamerkan dan disajikan
untuk wisatawan sebagai sumber dalam menggali ilmu, mulai dari koleksi alam
,benda-benda purbakala, koleksi zaman Hindu-Budha, gambaran kehidupan
masyarakat Jawa, kesenian dan kebudayaan
Jawa, diorama era pembangunan
dll.
Yang
menjadi mayoritas di Museum ini adalah koleksi kebudayaan dan kesenian Jawa. Masyarakat
Jawa adalah masyarakat yang sederhana,
memiliki nilai moral, mengutamakan
sosial dan kebersamaan. Hal ini merupakan salah satu cemin dari ajaran agama
Islam yang di dalamnya telah menyebar di Jawa. Dibuktikan dengan koleksi museum ini
yang gambaran aktivitas masyarakat Jawa
yang saling bergotong royong, sikap kesederhanaan masyarakat Jawa , kesenian Jawa
seperti gamelan dan wayang yang juga
digunakan sebagai media untuk menyebarkan agama Islam di Jawa oleh para Wali, Barongan dan Dugderan yang merupakan wujud
dari tradisi Islam Jawa, bentuk pakaian adat Jawa Tengah khususnya
daerah Semarang dan Kudus, miniatur masjid Demak sebagai masjid tertua yang ada
di Jawa dan Masjid Menara Kudus yang memiliki arsitektur menara unik sebagai wujud toleransi agama Islam
terhadap agama Hindu dan masih banyak
lagi koleksi yang dikemas dengan sangat baik dalam Museum ini.
Berbicara mengenai
Islam di Jawa, Islam memang bukan agama murni masyarakat Jawa namun Islam dengan perlahan berhasil
mengambil hati masayarakat Jawa untuk memeluk ajarannya karena Islam disebarkan dengan cara
damai dan tidak menghilangkan kebudaya masayarakat Jawa yang telah mengakar . Sebagai
contoh penyebaran Islam Sunan Kudus yang dilakukan dengan pendekatan kultural
yang juga menekankan kearifan lokal dengan mengapresiasi terhadap budaya
setempat. Dari hal itu bisa dikatakan bahwa Islam dan Jawa memiliki keterkaitan
dan mempengaruhi satu sama lain.
Melihat
fakta zaman ini , sebagian masyarakat Jawa seolah-olah hampir kehilangan jati dirinya sebagai orang Jawa.
Akhlak dan moral yang dalam istilah Jawa
dikenal dengan unggah ungguh yang menjadi
simbol khas masyarakat Jawa yang juga merupakan ajaran
agama Islam kini sudah semakin memudar. Banyak orang yang mengaku orang Jawa namun tidak tahu budayanya sendiri. Apresiasi
terhadap budaya lokal sangat dibutuhkan. Sebagai generasi muda, kita semua memiliki tugas untuk
meneruskan dan memperthanakan kearifan lokal yang ada. Rasa keingintahuan untuk
menggali dan meneliti jejak peninggalan leluhur ini merupakan salah satu cara untuk
mempertahankannya.
Jadi,
mengunjungi museum Ronngowarsito juga
merupakan salah satu bentuk apresisasi
terhadap budaya Jawa yang nantinya akan membuka nilai-nilai kesadaran akan pentingnya kepedulian kita terhadap
budaya Jawa yang tak lepas dari ajaran
Islam dan seajarah yang menjadi bekal
untuk mempertahankan kearifan lokal yang
telah dimiliki di era modern untuk menciptakan generasi penerus yang “having internasional knowledge and local
wisdom.”
![]() | |||||
| Tampak depan Museum Ronggowarsito |
![]() |
| Miniatur Masjid Menara Kudus |
![]() |
| macam keris |




